Selasa, 05 Juni 2012

LAPORAN PRAKTIKUM AGRONOMI


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah. Sumber daya tersebut akan sia-sia apabila tidak dimanfaatkan secara potensial. Sumber daya potensial tidak hanya berasal dari sumber daya alam, tetapi juga berasal dari sumber daya manusia. Sumber daya manusia yang dibutuhkan tidak harus berkuantitas besar, tetapi juga harus memiliki kualitas tinggi. Oleh karena itu, apabila kedua sumber daya potensial ini digabungkan maka akan dapat mengembangkan pertanian Indonesia.
Pertanian merupakan tulang punggung perekonomian. Pertanian mensuplai bahan pangan, bahan baku industry, dan tekstil. Peran pertanian dalam mensuplai bahan pangan sangat besar. Dalam suplai bahan pangan ini, komoditas hortikultura berperan relatif besar.
Hortikultura merupakan kegiatan budidaya tanaman dalam skala yang lebih padat modal, padat tenaga kerja, dan lebih intensif, karena mutu hasil merupakan tujuan akhir dari suatu budidaya tanaman. Walaupun begitu, budidaya hortikultura akan menghasilkan keuntungan yang tidak sedikit. Komoditas hortikultura mencakup komoditas buah, sayur, tanaman hias, dan tanaman obat.
Produk hortikultura mempunyai karakteristik yang berbeda dari produk agronomi. Komoditas hortikultura dimanfaatkan dalam keadaan masih hidup atau masih segar, perisibel, dan mempunyai kandungan air yang tinggi. Contoh komoditas hortikultura seperti sawi, kangkung, tomat, cabai, jambu, dan sebagainya.
Dalam budidaya hortikultura, karakteristik tanaman harus diketahui. Contohnya tomat tidak cocok pada tempat yang tergenang air, sawi tidak cocok pada tanah yang terlalu sering ditanami. Hal ini diperlukan agar didapatkan produk akhir yang optimal. Selain itu dalam budidaya hortikultura juga harus diperhitungkan jenis varietas yang cocok dan unit lapang yang akan di berikan.
Untuk menunjang pemahaman tentang hortikultura maka diadakan praktikum dasar-dasar hortikultura. Paraktikum dasar-dasar hortikultura ini memepelajari tentang cara budidaya tanaman hortikultura, karakteristik tanaman, OPT, dan manajemen pengolahan budidaya hortikultura. Walaupun tidak semua komoditas hortikultura dipelajari. Mahasiswa dituntut bekerja dengan rajin, terampil, tangkas, dan dapat kerjasama kelompok dengan baik. Setiap mahasiswa dituntut untuk terlibat langsung dalam setiap tahap atau proses kegiatan mulai dari persemaian sampai panen dan pasca panen.
B.     Tujuan
Tujuan praktikum dasar-dasar hortikultura ini adalah untuk mengetahui dan mengaplikasikan cara budidaya tanaman hortikultura, mengetahui karakteristik tanaman hortikultura. Selain itu, praktikum ini juga bertujuan untuk mengetahui manajemen pengolahan budiadaya hortikulura.
Adapun kompetensi yang ingin dicapai pada praktikum ini adalah sebagai berikut:
a)      Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami tentang teknik budidaya tanaman yang di laksanakan di greenhous
b)      Mahasiswa dapat memahami dan mempraktekkan kembali di lapangan dari apa yang telah di peroleh ketika melaksanakan praktikum di greenhouse
c)      Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami perbedaan pada budidaya tanaman yang di laksanakan di greenhous dengan budidaya tanaman pada lahan atau area terbuka
 


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Tumbuhan jagung telah dikenal luas oleh masyarakat kita. Bahkan sehari-hari kita sering menjadikannya makanan pokok. Mungkin sebagian dari kita telah mengetahui, pernah melihat tanaman jagung.
Jagung merupakan tanaman semak,  semusim dengan tinggi kurang lebih 2.5 cm. Batang tanaman ini tegak, silindris, lunak, berwarna hijau dengan permukaan licin. Daunnya majemuk, lonjong, berseling, panjang 20 cm, lebar 3-4,5 cm, tepi rata, pangkal membulat, ujung lancip, pertulangan menyirip, tangkai silindris, panjang kurang lebih 20 cm, dan berwarna hijau.
Bunga tanaman ini terdapat pada ketika daun, majemuk, tangkai silinder, panjang kurang lebih 24 cm, berwarna hijau kekuning-kuningan, mahkota berbentuk kupu-kupu, berwarna mirah keunguan,kuning, benang sari bertangkai, panjang kurang lebih 2 cm, berwarna mirah, kepala sari mirah, putilk bertangkai, berwarna kuning, panjang kurang lebih 12 cm, dan berwarna ungu. Bunga jagung mulai tampak pada umur 4-6 minggu setelah kecambah muncul dan mekar pada pagi hari. Panen sering dimulai sekitar 70 hari setelah tanam dan dapat berlanjut selama 25-30 hari.
Umur simpan jagung, Hal ini disebabkan oleh tingginya respirasi dan cepat layu. Walaupun penyimpanan suhu rendah dapat dapat memperpanjang umur simpan jagung setelah dipanen, jagung peka terhadap kerusakan suhu rendah dan bahkan rusak jika disimpan pada suhu dibawah 10oC selama beberapa hari.
Akarnya tunggang berwarna coklat muda (Hutapea etal 1994). Tanaman tumbuh baik pada tanah Latosol atau lempung berpasir, subur, gembur, banyak mengandung bahan organik dan drainasenya baik, pH sekitar 5,5-6,5. Suhu antara 20-30 derajat Celcius, iklimnya kering, curah hujan antara 600-1.500 mm/tahun dan ketinggian optimum kurang dari 800 m dpl.
Jagung dapat diperbanyak dengan biji. Biji yang dijadikan bibit hendaknya diambil dari buah yang masak di pohon. Tanaman yang diambil benihnya adalah tanaman yang tumbuh sehat. Jagung yang bijinya dijadikan benih adalah jagung yang sehat dan mulus. Jagung tersebut dibiarkan sampai kulit luarnya mengering. Jagung yang masak di pohon ini harus sehat dan mulus. Untuk satu hektar lahan, dibutuhkan benih sekitar 15-20 kg. Benih kacang yang disimpan sering dirusak hama gudang sehingga perlu perlakuan benih dengan menggunakan Sevin atau Ridomil. Untuk setiap kg benih dibutuhkan 1-2 g pestisida tersebut yang dilarutkan dalam satu liter air. Benih direndam sekitar tiga menit dalam larutan, lalu diangin-anginkan dan disimpan.
Penanaman dilakukan setelah lahan diolah dan digemburkan, lalu dibuat lubang tanam dengan tugal. Jarak tanam antarbaris 75 cm, dan jarak antar tanaman 25 cm. Masukkan 2-3 butir benih ke dalam lubang: Kemudian lubang ditutup dengan tanah tipis-tipis tanpa dipadatkan. jagung tidak harus ditanam dalam bedengan. Bila ingin membuat guludan dalam barisan cukup dengan menaikkan tanah di kiri-kanan tanaman sehingga barisan menjadi lebih tinggi.


BAB III
METODELOGI PRAKTIKUM
A.    Tempat dan Waktu
Praktikum penanaman jagung hibrida pada greenhouse dilaksanakan di laboratorium pembarantasan hama dan penyakit. Praktikum ini dilaksanakan pada akhir semister tiga.
B.     Bahan dan Alat
Alat yang digunakan pada praktikum penanaman jagung hibrida di green house adalah cangkul, polibek dan ember. Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah benih jagung hibrida, air ,arang sekam dan pupuk kandang.
C.    Prosedur Praktikum
Dalam praktek penanaman jagung hibrida di greenhous, ada beberapa tahapan yang kami lakukan yaitu :
a.       Membuat media tanam dengan bahan-bahan yang telah tersedia seperti Tanah, pupuk organik dan arang sekam yang kemudian di olah hingga benar-benar tercampur dan merata
b.      Memasukkan campuran dari bahan-bahan diatas kedalam polibek kemudian di siram secukupnya
c.       Melakukan penanaman jagung hibrida pada masing-masing polibek dua butir jagung
d.      Setiap dua hari sekali kami mengontrol, menyiram dan meneliti secara bergantian dan berkala untuk mengetahui pertunbuhab dan perkembangan serta kendala-kendala yang terjadi pada tanaman jagungtersebut
e.       Mencatat setiap hasil penelitian yang kami lakukan







BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    Hasil
Hasil Pengamatan dalam tabel 1 pertumbuhan tinggi tanaman jagung dengan menggunakan pupuk organik maka bisa di lihat tabel berikut

Hari ke – 1
Tinggi tanaman ke-n (cm)
1
2
3
1
0,1
0,3
-
2
0,2
0,4
0,1
3
0,3
0,5
0,2
4
0,5
0,7
0,4
5
0,7
0,8
0,6
6
1
I,2
0,9
Hasil Pengamatan dalam tabel 2 pertumbuhan jumlah daun tanaman jagung hibrida dengan menggunakan pupuk organik maka bisa di lihat tabel berikut :

Hari ke – 1
Jumlah daun tanaman jagung ke-n (meter)
1
2
3

1
-
-
-

2
-
-
-

3
1
1
-

4
3
2
1

5
4
3
2

6
6
4
3

Hasil Pengamatan dalam tabel 3 tinggi dan jumlah daun pada  tanaman jagung dengan menggunakan pupuk organik maka bisa di lihat tabel berikut :

Hari ke - 1
Tanaman ke-----------
1
2
3
Tinggi tanaman
28 cm
39 cm
22 cm
Dan jumlah daun
14
10
6
B.           Pembahasan
Green house atau yang dikenal dengan rumah kaca saat ini bukanlah barang baru bagi pelaku agribisnis, terutama agribisnis hortikultura seperti sayuran dan tanaman hias. Meskipun demikian, hal itu tidak menjamin bahwa semua petani Indonesia mengerti dan mengetahui tentang green house ini. Jangankan tahu manfaatnya, bahkan mungkin melihatnya saja belum pernah. Berdasarkan pertimbangan tersebut,dalam bahasan ini akan diulas gambaran umum mengenai apa sebenarnya dan manfaat dari green house sebagai penunjang agribisnis kita.
Green house modern telah dilengkapi pengatur suhu, air maupun kelembaban. Rumah kaca atau green house pada prinsipnya adalah sebuah bangunan yang terdiri atau terbuat dari bahan kaca atau plastik yang sangat tebal dan menutup diseluruh pemukaan bangunan, baik atap maupun dindingnya. Didalamnya dilengkapi juga dengan peralatan pengatur temperature dan kelembaban udara serta distribusi air maupun pupuk. Bangunan ini tergolong bangunan yang sangat langka dan mahal, karena tidak semua tempat yang kita jumpai dapat ditemukan bangunan semacam ini. Green house biasanya hanya dimiliki oleh Perguruan Tinggi atau lembaga pendidikan, Balai Penelitian dan perusahaan yang bergerak dibidang bisnis perbenihan, bunga dan fresh market hortikultura. Namun di negara-negara pertanian yang sudah maju seperti USA, Australia, Jepang dan negara-negara Eropa sebagian besar tanaman hortikulturanya ditanam di rumah kaca. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan greenhouse di mancanegara sudah umum dilakukan. Bahkan mungkin sudah berpuluh tahun sebelum negara kita mengadopsi tekhnologi tersebut.
Rumah kaca/green house yang digunakan di Indonesia sebagian besar digunakan untuk penelitian percobaan budidaya, percobaan pemupukan, percobaan ketahanan tanaman terhadap hama maupun penyakit, percobaan kultur jaringan, percobaan persilangan atau pemuliaan, percobaan hidroponik dan percobaan penanaman tanaman diluar musim oleh para mahasiswa, para peneliti, para pengusaha dan praktisi disemua bidang pertanian.
Green house sebagai sarana penunjang agribisnis hortikultura sangat mendukung upaya peningkatan produksi dan kontinyuitas produk
Sebenarnya ide awal untuk pembuatan bangunan green house di Indonesia dilatarbelakangi oleh kegiatan penelitian yang dilakukan lembaga penelitian maupun dunia pendidikan. Kegiatan penelitian yang dimaksud disini adalah kegiatan mencari jawaban atau mencari solusi / jalan keluar atau pemecahan terhadap suatu kasus. Sebagai contoh, bila kita ingin mencari uji ketahanan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit tertentu. Adanya green house yang mampu menciptakan iklim yang bisa membuat tanaman mampu berproduksi tanpa kenal musim ini ternyata juga mampu menghindarkan dari serangan hama dan penyakit yang tidak diujikan. Selain itu dengan adanya green house penyebaran hama dan penyakit yang diujicoba dapat dicegah . Hal ini berbeda dengan percobaan yang dilakukan di luar green house dimana dalam waktu yang sangat singkat hama dan penyakit dapat cepat menyebar luas karena terbawa angin maupun serangga.
Sejalan dengan bertambahnya waktu dan tingginya serapan tekhnologi pertanian, peranan green house bagi dunia pertanian kita semakin lama semakin dibutuhkan. Dengan semakin maraknya pembangunan perumahan maupun kawasan industri akhir-akhir ini membuat lahan pertanian makin berkurang. Padahal kebutuhan akan pangan di dalam negeri semakin lama semakin besar dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk Indonesia. Berdasarkan pemikiran itulah penggunaan green house untuk kegiatan bisnis pertanian semakin diperlukan. Pemikiran pengembangan green house untuk agribisnis hortikultura yang didasari pada keinginan pemenuhan kebutuhan produk pertanian yang kontinyu tanpa kenal musim.
Biasanya bila suatu produk hortikultura terjadi panen raya maka harga dipasaran akan jatuh, sehingga para petani menderita kerugian, apalagi harga benih, pupuk, pestisida maupun tenaga kerja mulai naik. Pada saat paceklik dimana produk hortikultura langka atau tidak ada dipasaran sedangkan permintaan banyak maka akan mengakibatkan kenaikan harga 2 sampai 3 kali lipat. Maka dengan adanya green house ini kita dapat menanam suatu jenis / crop tanaman horticultura diluar musim yang ada, sehingga harga jual produk tersebut dapat dijaga sehingga keuntungan yang kita dapatkan menjadi optimal.


BAB V
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Teknik budidaya tanaman jagung hibrida di greenhouse merupakan upaya yang kami lakukan dalam praktikum ini untuk memudahkan kami dalam melakukan penelitian tentang pertumbuhan dan perkembangan serta kendala-kendala yang terjadi pada tanaman jagung.
Rumah kaca atau green house pada prinsipnya adalah sebuah bangunan yang terdiri atau terbuat dari bahan kaca atau plastik yang sangat tebal dan menutup diseluruh pemukaan bangunan, baik atap maupun dindingnya. Didalamnya dilengkapi juga dengan peralatan pengatur temperature dan kelembaban udara serta distribusi air maupun pupuk.
Rumah kaca/green house yang digunakan di Indonesia sebagian besar digunakan untuk penelitian percobaan budidaya, percobaan pemupukan, percobaan ketahanan tanaman terhadap hama maupun penyakit, percobaan kultur jaringan, percobaan persilangan atau pemuliaan, percobaan hidroponik dan percobaan penanaman tanaman diluar musim oleh para mahasiswa, para peneliti, para pengusaha dan praktisi disemua bidang pertanian.
B.     Saran
Dalam pelaksanaan praktikum ini, masih banyak kekurangan salah satunya adalah tidak diajarkannya cara pemasangan pupuk pada tahap-tahap berikutnya, pengendalian dan pemberantasan terhadap hama dan penyakit, karena semua itu dilaksanakan oleh pegawai yang ditunjuk sehingga mahasiswa tidak bisa mengetahui secara jelas.
Tidak adanya pemantauan dan bimbingan dari dosen pembina menyebabkan hasil praktikum tidak maksimal sebagamana yang diharapkan oleh mahasiswa, maka dari itu untuk pelaksanaan praktikum berikutnya, hal tersebut supaya lebih diperhatikan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar